Rabu, 16 Oktober 2013

Perubahan Nilai-nilai Budaya di Indonesia



A.     ARTI KEBUDAYAAN
Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta “buddayah” yang artinya “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa. Sedangkan bahasa culture sebagai bahasa asing  dari “kebudayaan” berasal dari kata latin “colere” dengan makna “mengolah, mengerjakan (khususnya tanah, pertanian). Dari makna ini, kemudian berkembanglah makna “culture” sebagai segala daya upaya dan tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam.

B.      BUDAYA SEBAGAI SISTEM GAGASAN
Terdapat dua kategori penilaian kebudayaan yang marak digunakan, yakni kebudayaan yang merujuk pada benda-benda material dan merujuk pda system gagasan. Pada kategori pertama disebut kebudayaan sebagai “pola dari perilaku”.
Kelompok ini berpendapat bahwa kebudayaan ini dihasilkan dari perilaku. Dengan kata lain, kebudayaan adalah benda-benda atau materi-materi yang dihasilkan dari perilaku. Juga kelompok beerpandangan bahwa kebudayaan ini merupakan suatu system pengetahuan dan kepercayaan yang disusun sebagai pedoman manusia dalam menentukan dan memilih alternative yang ada. Sedangkan kelompok lain yang berpandangan kebudayaan merupakan suatu system gagasan juga meletakkan kebudayaan sebagai pedoman manusia dalam berperilaku dan bersikap. Jadi, budaya berupa rancangan hidup, maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yang diwariskan melalui proses belajar sehingga membangun sifat manusia tersebut yang dikenal dengan “nilai budaya”. Sebuah nilai yang dapat dilihat, dirasakan dan diwujudkan dalam bentuk adat istiadat masyarakat.

C.      PERWUJUDAN KEBUDAYAAN
Koentjaraningrat (1990) menggolongkan wujud kebudayaan menjadi :
1.      Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nila-nilai, norma-norma, peraturan  dan sebagainya.
2.      Sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
3.      Sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Sedangkan J. J. Honingmann (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yakni Ideas, Aktivities, dan Artivacs. Berdasarkan penggolongan ini, maka pengelompokan kebudayaan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Budaya yang bersifat abstrak
Dalam hal ini, budaya dinilai abstrak, tidak dapat dilihat dan diraba. Namun, pada hakekatnya telah berada pada masing-masing jiwa dan fikiran manusia. Ide-ide, gagasan, nilai-nilai dan pemikiran merupakan salah satu contoh dari pada keabstrakan budaya tersebut.
2.      Budaya yang bersifat konkret
Sifat konkret merupakan lawan dari abstrak, dimana jika dikatakan budaya bersifat konkret berarti budaya dapat dilihat, diraba dan diamati pada setiap pola tindakan aktivitas manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Sifat konkret budaya ini terdiri dari perilaku, bahasa materi/artefak.

D.     PENGERTIAN  PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
Istilah ini sesungguhnya berasal dari dua konsep yang berbeda, pertama perubahan social yang dilihat dengan kaca mata sosiologi dan kedua perubahankebudayaan yang dilihat menggunakan kaca mata antropologi. Sebelum penguraian masing - masing sumber, tidak ada salahnya jika terlebih dahulu kita pelajari makna umum masing – masing.
            Menurut Soedjono Dirdjosiswojo (1985), memberikan definisi bahwa perubahan social adalah perubahan fundamental yang terjadi dalam struktur social, system social dan organisasi social. Kemudian koentaraningrat (1989), menyatakan bahwa perubahan budaya adalah perubahan – perubahan yang mencakup unsur – unsur kebudayaan, yakni mencakup perubahan system pengetahuan, organisasi social, system mata pencarian, system teknologi, religi, bahasa dan kesenian. Perubahan ini terjadi akibat ketidaksesuain diantara unsur – unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga menghasilkan suatu keadaan yang harmonis bagi kehidupan.
            Selain kedua definisi diatas, sebenarnya masih terdapat beberapa kolaborasi definisi yang dilahirkan oleh tokoh – tokoh sosiologi dan antropologi yang lain. Namun secara singkat, dapat diambil ibrah bahwa perubahan social budaya adalah perubahan yang mencakup hampir semua aspek kehidupan social dan budaya dari suatu masyarakat atau komunitas. Pada hakekatnya, proses ini lebih cenderung pada proses penerimaan perubahan baru yang dilakukan oleh masyarakat tersebut guna meningkatkan taraf hidup dan kualitas kehidupan.
            Meskipun demikian, perubahan social budaya tidaklah lepas dari penilaian tentang akibat positif dan negative dari responden yang mengalami proses ini secara langsung. Terdapat pihak masyarakat yang dapat menikmatiaroma positif dari perubahan ini, namun juga tidak terlepas dari aroma negative yang dinilai merugikan dan menghabat suatu pihak akibat keadaan baru yang datang pada komunitas mereka.

E.      TEORI – TEORI YANG MENDASARI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
Beberapa teori yang mendasari perubahan social budaya dalam suatu kehidupan masyarakat, diantaranya:
a.      Teori evolusi
Inti aliran ini menyatakan bahnwa masyarakat akan berkembang dari masyarakat sederhana (primitive) menuju masyarakat modern (complex) dan memerlukan proses jangka panjang fase demi fase. Penganut faham islam ini terdapat bahwa perubahan menuju masyarakat modern ini akan mengalami perubahan secara linear (garis lurus) dari masyarakat primitive menuju masyarakat tradisional hingga masyarakat modern.
Beberapa contoh tokoh penganut aliran ini,antara lain:
a)      Auguste Comte, berpendapat bahwa masyarakat akan mengalami tiga tahap perkembangan, yakni (1) Tahap teologis, diwarnai nilai – nilai supranatural, (2) Tahap metafisik, tahap peralihan dari tahap telogis menuju prinsip – prinsip abstrak sebagai dasar perkembangan budaya, dan (3) Tahap ilmiah, didukung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b)      Herbert Spencer, menurutnya manusia akan melalui serangkai tahap yang berawal dari tahap kelompok suku bangsa yang homogeny dan sederhana menuju tahap masyarakat modern yang kompleks. Juga teori siapa yang kuat dan energik, maka dialah yang menang dan tetap bertahan, merupakan teori hasil pemikiran yang dilahirkan.
c)      Karl Marx, berpendapat bahwa adanya proses perubahan masyarakat primitive menuju masyarakat sering perkembangan iptek, sehingga ia mencetuskan teori bahwa suatu saat masyarakat modern kapitalistis yang mengalami keruntuhan, digantikan dengan masyarakat komunistis.
b.            Teori siklus
     Menurut teori ini, berpendapat bahwa perubahan sosial meruapakan sesuatu yang tidak bisa direncanakan atau diarahkan kepada suatu titik tertentu, akan tetapi akan berputar melingkar sebagai sesuatu yang berulang-ulang. Dengan kata lain, tidak ada titik terakhir yang sempurna dari suatu perubahan sosial, namun akan kembali ke tahap awal untuk peralihan ke tahap selanjutnya. Sehingga dikatakan tidak ada batas yang jelas antara  pola kehidupan masyarakat primitive, tradisional dan modern.
c.       Teori Fungsionalisme
Teori berpendapat bahwa masyarakat tak ubahnya seperti suatu struktur organ tubuh manusia yang bagiannya memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain. Selain hubungan keterkaitan, organ manusia pun memiliki tugas dan fungsi jelas dan berbeda yang saling melengkapi antara satu sama lain. Maka begitu pula dalam masyarakat setiap bentuk kelembagaan dapat melaksanakan tugas dan fungsi tertentu guna kestabilan dan kemajuan masyarakat.

F.       BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
Menurut Soerjono Soekanto (1990) berpendapat bahwa perubahan sosial dan kebudayaan dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, diantaranya:
1.      Perubahan lambat dan perubahan cepat
   Perubahan lambat adalah perubahan sosial budaya yang memerlukan waktu lama, cenderung tidak direncanakan dan berlangsung secara alamiah, tetapi biasanya menuju ke tahap perkembangan masyarakat yang lebih sempurna atau lebih baik dari perkembangan sebelumnya. Salah satu contoh ialah Teori Evolusi yang membutuhkan waktu panjang dan lama tersebut.
   Sedangkan, perubahan cepat kebalikan dari perubahan lambat, yakni perubahan sosial budaya yang tidak memerlukan waktu lama, cenderung direncanakan dan memiliki hasil yang tidak se-kongkret perubahan lambat. Hal ini sering kita kenal dengan istilah revolusi, sebagai contoh revolusi industri, yang terencana dan tidak membutuhkan waktu panjang. Beberapa syarat untuk terjadinya revolusi, antara lain:
a)     Keinginan yang kuat
b)     Pemimpin yang berdedikasi tinggi
c)      Program kerja yang jelas
d)     Pemimpin mampu menyamakan tujuan utama, dan
e)     Adanya momentum yang tepat

2.      Perubahan kecil dan perubahan besar
Pada dasarnya, perbedaan antara keduanya sangatlah relative. Namun tetap terdapat perbedaan jika dilihat definisi masing-masing yang menjelaskan bahwa perubahan kecil merupakan perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial atau kebudayaan yang tidak membawa pengaruh langsung dan sangat berarti dalam sendi-sendi kemasyarakatan. Sebaliknya, perubahan besar sangatlah membawa pengaruh (negative dan positif) pada kehidupan masyarakat. Misalnya, perubahan busana, pola makan, music, dll yang masih termasuk dalam perubahan kecil. Namun, perubahan dalam suatu lembaga masyarakat (ekonomi, social, dll) pastilah akan membawa pengaruh dalam masyarakat. Misal, krisis moneter, kenaikan harga BBM, penurunan nilai harga jual hasil tani , tsb

3.      Perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak direncanakan
  Perubahan yang direncanakan adalah suatu bentuk perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak – pihak yang akan melakukan perubahan (agent of change). Tentunya setelah melewati proses panjang, melalui klarifikasi, verifikasi, observasi, dsb diakhiri dengan keputusan perubahan yang teroganisir. Misal, REPELITA yang sempat digulirkan di masa Orde baru .
  Sedangkan sebaliknya, perubahan yang tidak direncanakan merupakan bentuk suatu perubahan yang tidak didesain terlebih dahulu akan tetapi tetap akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Perubahan ini tidaklah melalui agent of change, melainkan berjalan alamiah dan seringkali dapat terjadi akibat efek ikutan dari perubahan yang direncakan. Misalnya, perubahan pola makanan, pola pakaian, perubahan moral dan pergeseran nilai – nilai budaya khususnya terhadap masyarakat indonesia.

G.     FAKTOR – FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
1.  Faktor Pendorong
1.1  Faktor Internal
a. Faktor Manusia
          Manusia diletakan sebagai faktor yang paling terpenting dalam perubahan ini, selain memiliki potensi biologis, manusia juga memiliki potensi psikologis yang sangat dahsyat dalam mengatasi dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Terlebih manusia menutupkan satu – satunya subjek dalam proyek perubahan sosiologis budaya ini, jadi tanpa keberadaannya niscaya tak akan pernah ada perubahan yang diinginkan.

b. Faktor Lingkungan
            Lingkungan memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam pencapaian perubahan yang diharapkan. Karena disadari ataukah tidak, manusia sebagai subjek tidak akan pernah terlepas dari lingkungan, baik masyarakat primitive, tradisional, maupun modern. Sehingga keberadaannya yang kondusif sangatlah diharapkan untuk mendorong target perubahan tersebut.

c. Adanya Penemuan – penemuan Baru
            Faktor manusia yang berkualitas dari lingkungan yang kondusif menjadi modal berharga untuk mengeluarkan imajinasi  dan gagasan baru sebagai proses sebuah perubahan untuk menemukan hal – hal baru dalam lingkungan internal masyarakat tersebut. Dan penemuan – penemuan ilmiah baru inilah yang banyak berperan sebagai pendorong terjadinya perubahan social budaya di lingkungan masyarakat.
            Penemuan dapat  dibedakan menjadi discovery, yakni penemuan unsure kebudayaan baru dalam bentuk apapun atau berupa gagasan yang diciptakan seseorang maupun kelompok individu yang memang belum pernah ada sebelumnya. Dan invention, yakni pengakuan masyarakat untuk menerima, menganut dan menerapkan penemuan dalam praktek sehari – hari.

1.  2 Faktor Eksternal
a.      Kontak budaya dan komunikasi sosial
b.      Adanya intervensi untuk menerima nilai – nilai baru
c.       Peperangan atau terjadinya revolusi

2.      Faktor Penghambat
Menurut Soerjono Soekanto, terdapat 9 faktor penghambat terjadinya perubahan sosial budaya, antara lain:
a.      Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
b.      Lambatnya perkembangan ilmu pengetahuan
c.       Sikap masyarakat yang tradisional
d.      Adanyan kepentingan – kepentingan yang tlah tertanam sangat kuat
e.      Rasa khawatir akan terjadinya kegoyahan pada intergrasi kebudayaan
f.        Prasangka terhadap hal – hal asing atau sikap yang tertutup
g.      Hambatan – hambatan yang bersifat ideologis,dan
h.      Adat atau kebiasaan

H.     CONTOH PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
1. Pakaian
Perubahan mode pakaian pada masyarakat bisa saja terjadi. Dahulu semua masyarakat menggunakan pakaian adat khasnya. Namun, seiring dengan kemajuan dari perkembangan masyarakat tersebut membuat sedikit demi sedikit anggota masyarakat mulai meninggalkan pakaian adatnya dan menggunakan pakaian yang menjadi trend di daerah itu. Seperti contoh, sekarang adalah jamannya demam Korea. Bagi penggemar beratnya, mereka selalu mencari dan menggunakan pakaian yang biasa digunakan orang Korea. Namun, masyarakat tetap tidak meninggalkan pakaian adat mereka dan tetap menggunakannya dalam acara tertentu. Seperti pakaian adat Bali yang digunakan setiap kali mereka sembahyang di pura.
2. Model Rambut
Model rambut juga banyak berubah. Bahkan masyarakat cenderung merasa harus mengikuti trend tersebut jika tidak mau dikatakan ‘jadul’ atau ‘culun’. Pengaruh terbesar adalah model rambut ‘punk’ yang membuat banyak remaja mengikuti model rambut dan gaya hidup orang dengan model rambut tersebut.
3. Kesenian
Kesenian bisa saja berubah atau tergantikan seiring perkembangan zaman. Saat ini, banyak kesenian di Indonesia yang mulai punah karena anak bangsa tidak suka dengan kesenian tersebut. Bahkan mereka lebih suka mempelajari kesenian asing dengan alasan trendy. Namun, masih banyak kesenian populer Indonesia yang masih bisa bertahan sampai sekarang.
4. Bahasa Daerah
Indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah. Namun, banyak juga bahasa yang mulai punah. Itu mungkin disebabkan karena mereka lebih berminat untuk menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dibandingkan bahasa daerahnya sendiri. Itu mungkin karena bahasa tersebut jangkauan komunikasinya lebih luas dibandingkan bahasa daerahnya yang cenderung hanya dimengerti oleh anggota masyarakat di daerah tersebut.
5. Masuknya Budaya Barat
Budaya di Indonesia telah banyak tercampur dengan budaya asing. Itu mungkin disebakan karena kebudayaan itu lebih menyenangkan dibandingkan budayanya sendiri. Seperti budaya hari Valentine dan pesta ulang tahun. Sebenarnya budaya asli Indonesia telah memiliki budaya yang mirip dengan budaya tadi. Namun, budaya tersebut terkadang dianggap kurang meriah. Contoh perubahan besar lainnya adalah penggunaan komputer dan alat-alat teknologi sebagai pengganti buku untuk mencari tugas. Hal itu disebabkan oleh kemudahan menggunakan alat-alat teknologi tersebut.
6. Cara Berkomunikasi
Perubahan pada cara berkomunikasi bisa terjadi. Beberapa tahun lalu kita masih menggunakan surat untuk berkomunikasi jarak jauh dan sekarang, dengan menggunakan jejaring sosial atau alat komunikasi, seseorang bisa berkomunikasi dengan cepat dan praktis.

Itulah contoh perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat. Semua masyarakat pasti saja akan mengalami perubahan sosial budaya. Namun, perubahan tersebut umumnya tidak dirasakan atau tidak terjadi pada masyarakat terpencil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar